Tampilkan postingan dengan label Keislaman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keislaman. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 26 Agustus 2017

Hukum Jual Beli Kulit Hewan Qurban Menurut Syari'at Islam

“Hai Bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah, engkau akan mendapatkan diriku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. Al Shaffaat : 102)
Sebagian masyarakat Indonesia pada belakangan ini banyak yang menjual kulit dan kepala hewan qurban. Motifnya beraneka ragam.

Sabtu, 19 Agustus 2017

Teori Tokoh Ulama Besar Kiai Hasyim Asy’ari saat Menghadapi Jepang

Teori Tokoh Ulama Besar Kiai Hasyim Asy’ari saat Menghadapi Jepang. Sejak zaman penjajahan Belanda hingga Nippon (Jepang), pesantren menjadi basis kuat perlawanan rakyat Indonesia terhadap ketidakperikemanusiaan kolonial. Hal itu dibuktikan ketika pesantren dan para kiai senantiasa menjadi bidikan para penjajah untuk ditundukkan dengan segala cara,

Minggu, 25 Desember 2016

Arti dan Makna do’a rabbi zidnii ‘ilmaa

http://toriqoel.blogspot.com/2016/12/arti-dan-makna-doa-rabbi-zidnii-ilmaa.html
Wallpaper Islami QS. Thaaha :114

ALlah SWT berfirman :

وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

“Dan katakanlah,‘Wahai Rabb-ku, tambahkanlah kepadaku ilmu.” (QS. Thaaha: 114)

Ibnu Hajar Al-Asqalani Asy-Syafi’i rahimahullah berkata,

“Firman Allah Ta’ala (yang artinya), ’Wahai Rabb-ku, tambahkanlah kepadaku ilmu’ mengandung dalil yang tegas tentang keutamaan ilmu. Karena sesungguhnya Allah Ta’ala tidaklah memerintahkan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta tambahan sesuatu kecuali (tambahan) ilmu. Adapun yang dimaksud dengan (kata) ilmu di sini adalah ilmu syar’i (ilmu agama). Yaitu ilmu yang akan menjadikan seorang muslim yang terbebani syari’at mengetahui kewajibannya berupa masalah-masalah ibadah dan muamalah, juga ilmu tentang Allah dan sifat-sifatNya, hak apa saja yang harus dia tunaikan dalam beribadah kepada-Nya, dan mensucikan-Nya dari berbagai kekurangan.” (Fath Al-Bari, 1: 141)

Adapun tambahan ilmu yang dimaksud ada tiga pendapat para ulama dalam hal ini, yakni :
  1. Tambahkanlah ilmu tentang Al-Qur’an.
  2. Tambahkanlah kepahaman.
  3. Tambahkanlah hafalan.
Pendapat pertama di atas dari Maqatil. Sedangkan pendapat kedua dari Ats-Tsa’labiy. Demikian disebutkan dalam Zaad Al-Masiir karya Ibnul Jauzi rahimahullah.

Allah SWT berfirman :

قَالُوا سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

Mereka menjawab: "Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana". (QS. Al Baqoroh : 32)

Tafsir Jalalayn :
(Jawab mereka, "Maha suci Engkau!) artinya tidak sepatutnya kami akan menyanggah kehendak dan rencana-Mu (Tak ada yang kami ketahui, kecuali sekadar yang telah Engkau ajarkan kepada kami) mengenai benda-benda tersebut. (Sesungguhnya Engkaulah) sebagai 'taukid' atau penguat bagi Engkau yang pertama, (Yang Maha Tahu lagi Maha Bijaksana.") hingga tidak seorang pun yang lepas dari pengetahuan serta hikmah kebijaksanaan-Mu.

Tafsir Quraish Shihab :
Malaikat menyadari kelemahannya seraya berkata, "Ya Tuhan, kami benar-benar menyucikan-Mu dengan kesucian yang sesuai dengan zat-Mu. Kami mengakui kelemahan kami dan tidak akan membantah-Mu. Tidak ada yang kami ketahui kecuali apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Engkaulah yang mengetahui segala sesuatu dan Mahabijaksana atas segala yang Engkau lakukan."

Demikianlah Arti dan Makna do’a rabbi zidnii ‘ilmaa, semoga berguna dan bermanfaat. amin

Sabtu, 10 September 2016

Contoh Bacaan Bilal dalam Sholat ‘Idhul Fitri dan ‘Idhul Adha

Bacaan Bilal dalam Sholat ‘Idhul Fitri maupun ‘Idhul Adha . Di dalam ajaran agama Islam terdapat dua hari raya dalam satu tahun, yaitu Hari Raya ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha. Dalam pelaksanaannya kedua hari raya tersebut dilakukan pada pagi hari sesuai dengan waktunya. ‘Idul Fitri dilakukan pada setiap tanggal 1 syawal dan ‘Idul Adha dilakukan tanggal 10 Dzulhijjah.

Hukum melaksanakan sholat ‘Ied adalah sunnah muakkad atau sunnah yang sangat amat penting, baik untuk kaum laki-laki maupun perempuan.

Pelaksanaan kedua sholat ‘Ied, dilakukan sholat dulu baru khutbah. Beda dengan sholat jum’at yaitu khutbah dulu baru sholat.

Sebelum melakukan sholat Ied bilal takbir terlebih dahulu. Apabila sudah masuk waktu sholat ied, maka bilal mengajak para jama'ah untuk melaksanakan sholat ied secara berjama'ah dengan menyerukan lafadz atau bacaan berikut:


اللهُ اَكْبَرُ, اللهُ اَكْبَرُ, اللهُ اَكْبَرُ , لَااِلهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ, اَللهُ اكبَرُ وَللهِ الْحَمْد.اللهُ اَكْبَرُ كَبيْرًا وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكرَةً وَأَصِيْلًا, لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَلَا نَعْبُدُ إلَّا إيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ, لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ, صَدَقَ وَعْدَهُ, وَنَصَرَ عَبْدَهُ, وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ, لَااِلهَ اِلاَّالله وَاللهُ اَكْبَرُ، اللهُ اَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْد
اللهُ اَكْبَرُ, اللهُ اَكْبَرُ, اللهُ اَكْبَرُ , لَااِلهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ, اَللهُ اكبَرُ وَللهِ الْحَمْد
صَلُّوْا سُنَّةً لِعِيْـــدِ اْلفِطْرِ / عِيْدِ الأَضْحَى رَكْعَتَيْنِ جَامِعَةً رَحِمَكُمُ اللهُ

Setelah Bilal membaca bacaan di atas kemudian langsung sholat Ied dua rokaat. Setelah selesai shalat, Bilal berdiri menghadap para jama’ah sambil membawa tongkat dan membaca :

يَا مَعَاشِرَ اْلـمُسْلِمِيْنَ وَزُمْرَةَ اْلـمُؤْمِنِيْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ إِعلَمُوا أَنَّ يَوْمَكُمْ هَذَا يَوْمُ عِيْدِ الفِطْرِ / عِيْدِ الأَضْحَى وَيَومُ السُرُوْرِ وَيَومُ المــــــغْفُورِ يَومُ اَحَلَّ اللهُ لَكُمْ فِيهِ الطَّعَامَ وَحَرَّمَ عَلَيْكُمْ الصِّيَامَ إِذَا صَعِدَ الْخَطِيبُ عَلَى المِنْبَرِ, أَنْصِتُوْا وَاسْمَعُوْا وَأَطِيْعُوْا رَحِمَكُمُ اللهُ, أَنْصِتُوْا وَاسْمَعُوْا وَأَطِيْعُوْا أجرَكُمُ اللهُ, أَنْصِتُوْا وَاسْمَعُوْا وَأَطِيْعُوْا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ.


Kemudian Khotib naik ke mimbar, bilal memberikan tongkat dan membaca sholawat.

اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ

Kemudian bilal menghadap Qiblat dan membaca do’a:

اَللّهُمَّ قَوِّ اْلإِسْلاَمِ, مِنَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ, وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ, َاْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ, وَيَسِّرْ هُمْ عَلَى مُعَانِدِ الدِّيْن, وَاخْتِمْ لَنَا مِنْكَ بِالْخَيْرِ, وَيَاخَيْرَ النَّاصِرِيْنَ بِرَحْمَتِكَ يَااَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

Lalu khotib mengawali dengan mengucapkan salam lalu berkhutbah dua kali. Diantara khotbah pertama dan kedua, ketika khotib sedang duduk sebentar, maka bilal membaca sholawat lagi.

اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْن


Demikianlah contoh Bacaan Bilal dalam Sholat ‘Idhul Fitri dan ‘Idhul Adha, mudah-mudahan bermanfaat.

Jumat, 09 September 2016

Arti dan Makna Surat Al Fatikhah

Alloh SWT berfirman dalam Surat Al Fatikhah :

بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ ١ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ٢ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ ٣ مَٰلِكِ يَوۡمِ ٱلدِّينِ ٤ إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ ٥ ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ ٦ صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِمۡ غَيۡرِ ٱلۡمَغۡضُوبِ عَلَيۡهِمۡ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ ٧ 

  1. Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang[1]. 
  2. Segala puji[2] bagi Allah, Tuhan semesta alam[3]. 
  3. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. 
  4. Yang menguasai[4] di hari Pembalasan[5]. 
  5. Hanya Engkaulah yang kami sembah[6], dan Hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan[7]. 
  6. Tunjukilah[8] kami jalan yang lurus, 
  7. (yaitu) jalan orang-orang yang Telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.[9] 

[1] Maksudnya: saya memulai membaca al-Fatihah Ini dengan menyebut nama Allah. setiap pekerjaan yang baik, hendaknya dimulai dengan menyebut asma Allah, seperti makan, minum, menyembelih hewan dan sebagainya. Allah ialah nama zat yang Maha suci, yang berhak disembah dengan sebenar-benarnya, yang tidak membutuhkan makhluk-Nya, tapi makhluk yang membutuhkan-Nya. Ar Rahmaan (Maha Pemurah): salah satu nama Allah yang memberi pengertian bahwa Allah melimpahkan karunia-Nya kepada makhluk-Nya, sedang Ar Rahiim (Maha Penyayang) memberi pengertian bahwa Allah senantiasa bersifat rahmah yang menyebabkan dia selalu melimpahkan rahmat-Nya kepada makhluk-Nya.

http://toriqoel.blogspot.com/2016/09/arti-dan-makna-surat-al-fatikhah.html

[2] Alhamdu (segala puji). memuji orang adalah Karena perbuatannya yang baik yang dikerjakannya dengan kemauan sendiri. Maka memuji Allah berrati: menyanjung-Nya Karena perbuatannya yang baik. lain halnya dengan syukur yang berarti: mengakui keutamaan seseorang terhadap nikmat yang diberikannya. kita menghadapkan segala puji bagi Allah ialah Karena Allah sumber dari segala kebaikan yang patut dipuji. 

[3] Rabb (Tuhan) berarti: Tuhan yang ditaati yang Memiliki, mendidik dan Memelihara. Lafal Rabb tidak dapat dipakai selain untuk Tuhan, kecuali kalau ada sambungannya, seperti rabbul bait (tuan rumah). 'Alamiin (semesta alam): semua yang diciptakan Tuhan yang terdiri dari berbagai jenis dan macam, seperti: alam manusia, alam hewan, alam tumbuh-tumbuhan, benda-benda mati dan sebagainya. Allah Pencipta semua alam-alam itu. 

[4] Maalik (yang menguasai) dengan memanjangkan mim,ia berarti: pemilik. dapat pula dibaca dengan Malik (dengan memendekkan mim), artinya: Raja. 

[5] Yaumiddin (hari Pembalasan): hari yang diwaktu itu masing-masing manusia menerima pembalasan amalannya yang baik maupun yang buruk. Yaumiddin disebut juga yaumulqiyaamah, yaumulhisaab, yaumuljazaa' dan sebagainya. 

[6] Na'budu diambil dari kata 'ibaadat: kepatuhan dan ketundukkan yang ditimbulkan oleh perasaan terhadap kebesaran Allah, sebagai Tuhan yang disembah, Karena berkeyakinan bahwa Allah mempunyai kekuasaan yang mutlak terhadapnya. 

[7] Nasta'iin (minta pertolongan), terambil dari kata isti'aanah: mengharapkan bantuan untuk dapat menyelesaikan suatu pekerjaan yang tidak sanggup dikerjakan dengan tenaga sendiri. 

[8] Ihdina (tunjukilah kami), dari kata hidayaat: memberi petunjuk ke suatu jalan yang benar. yang dimaksud dengan ayat Ini bukan sekedar memberi hidayah saja, tetapi juga memberi taufik. 

[9] yang dimaksud dengan mereka yang dimurkai dan mereka yang sesat ialah semua golongan yang menyimpang dari ajaran Islam.

Demikian Arti dan Makna Surat Al Fatikhah. yang kami buat dari software yang tidak asing lagi yaitu QuranInWord Versi 2.2 (Download Disini) yang berada di microsoft office. Semoga berguna dan bermanfaat. 

Bacaan Salam Para Wali [ Arab dan latin ]



عِبَادَاللهْ رِجَال اللهْ - اَغِيْثُوْنَالاَِجْلِ اللهْ
وَكُوْنُوْاعَوْنَنَا لِلّهْ  - عَسى نُحْظى بِفَضْلِ اللهْ
1.     Ibadalloh Rijalaloh – Aghisuna li ajlillah – wakuunu aunana lillah
عَلَى الكَافِىْ صَلاَةُاللهْ – عَلَى الشَّافِىْ سَلاَمُ اللهْ
بِمُحْيِ الدِّيْنِ خَلِّصْنَا – مِنَ الْبَلوَءِ يَااللهْ
2.     Alal kafi solatulloh – alassaafi salamulloh – bimuhyiddiini khollisna – minal balwaa-i ya Alloh.  [ kembali ke-1]
وَيَااَقْطَابْ وَيَااَنْجَابْ – وَيَاسَادَاتْ وَيَا اَحْطَابْ
وَاَنْتُمْ يَااُولِى اْلاَلْبَابْ – تَعَالَوْاوَانْصُرُوْا ِللهْ
3.      Waya aktob waya anjob – waya sadad waya ahtob – wa antum ya ulil albab – ta alau wanshuru lillah.  [ kembali ke-1]
 سَأَلْنَاكُمْ سَأَلْنَاكُمْ – وَلِلزُّلْفَى رَجَوْنَاكُمْ
وَفِىْ اَمْرٍقَصَدْنَاكُمْ – فَشُدُّوْاعَزْمَكُمْ للهْ
4.      Sa alnakum sa alnakum – walizzulfa rojaunakum – wafi amrin qoshodnaakum – fasyudduu azmakum lillah.  [ kembali ke-1]
فَيَارَبِّى بِسَادَتِى – تَحَقَّقْ لِىْ اِشَا رَتِىْ
عَسى تَأْتِىْ بِشَارَتِىْ – وَيَصْفُو وَقْـتُنَا ِللهْ
5.      Faya robbi bisadatii – tahaqqoqlii isyaarooti – asa takti bisaroti – wayasfuu waqtuna lillah.  [ kembali ke-1]
بِكَشْفِ اْلحُجِبْ عَنْ عَيْنِىْ – وَرَفْعِ الْبَـيْنِ مِنْ بَيْنِىْ
وَطَمْسِ الْكَيْفِ وَاْلاَيْنِ – بِنُوْرِالْوَجْهِ يَااللهْ
6.      Bikasfil khujib ‘an-ainani warof’il baini mim bainii – wathomsil kaifi wal aini – binuuril wajhi ya Alloh [ kembali ke-1]
صَلاَةُاللهِ مَوْلاَنَا – عَلَى مَنْ بِالْهُدَى جَانَا
وَمَنْ بِالْحَقِّ اَوْلاَنَا – شَفِيْعِ الْخَلْقِ عِنْدَاللهْ
7.      Sholatulloh maulanaa – ala man bilhuda jaanaa – waman bil haqqi awlaanaa – syafii’il kholqi ‘indalloh. [ kembali ke-1]
لاَاِلهَ اِلاَّاللهْ  اَاِلهَ اِلاَّاللهْ  اَاِلهَ اِلاَّاللهْ  - مُحَمَّدُ الرَّسُوْلُ اللهْ
شَيْح عَبْدُالْقَدِيْروَلِيُّ اللهْ
8.      Laa ilaaha illalloh 3 x – Muhammadur rosululloh – syeh Abdul Khodir Waliyulloh.
تَوَسَلْنَا تَوَسَلْنَا - بِجَاهِ شَيْح عَبْدُالْقَدِيْرالْجَيْلاَنِىْ وَلِيُّ اللهْ - وَنُوْرُهُ فِمَالاَ ظَاهِرْ
9.      Tawa salna-tawasalna – bijai syeh Abdul Khodir AlJailani waliyulloh – wanuruhu fimala dhohir. [ kembali ke-8]
عَلَى يَاسَيْخَانَ الْمَشْهُوْر- بِجَحِقْ دَمْبَنَا مَغْفُوْر - وَكُلِّ سَيِّنَا مَشْكُوْر بِجَاهِ شَيْح عَبْدُالْقَدِيْر - وَكُلِ اْلاَوْلِيَاءْ
10.   Wakulli auliya’ filkaun – tawasalna bihim sakdum – khowaijna bisirinun – bijahi syeh Abdul Khodir. [ kembali ke-8]
11.   Wakulil auliya’ Filkaun - Tawasolna bihim yakdum - Khawaijna bisirinun - Bijai syeh abdul Kodir. [ kembali ke-8]
12.   Wabil hadi sofiyulloh - Muhammad khoiri kholkillah - Linahyati ridho illah - Bijahi syeh Abdul Khodir. [ kembali ke-8]
13.   Wa’alil mustofa muhtar - Wa’ashabil nabiyil ahyar - Waman humuli nabiyil Ansor - Bijahi syeh Abdul Khodir.  [ kembali ke-8]
اَسْتَغْفِرُاللهَ اْلعَظِيمْ, اَسْتَغْفِرُاللهَ اْلعَظِيمْ, اَسْتَغْفِرُاللهَ اْلعَظِيمْ, اِنَّ اللهَ غَفُوْرُالرَّحِيْم

Astaqfirullohal ‘adim 3 x ... Innalloha ghofuurur rokhiim.
https://toriqoel.blogspot.co.id/2016/09/bacaan-salam-para-wali-arab-dan-latin.html
Bacaan "Salam Para Wali" [ Arab dan latin ]

Kisah Ibnu Hajar Si Anak Batu

http://toriqoel.blogspot.com/2016/09/kisah-ibnu-hajar-si-anak-batu.html
Kisah Ibnu Hajar Si Anak Batu. Ada seorang ulama bernama Ibnu Hajar al-‘Asqalani. Pada mulanya, ia adalah seorang santri yang bodoh. Meskipun sudah lama belajar, dia belum juga paham. Akhirnya, Ibnu Hajar memutuskan untuk pulang. Dia pun mohon diri kepada kyainya supaya diperbolehkan pulang. Dengan berat hati sang kyai membolehkan Ibnu Hajar pulang, tetapi sambil berpesan agar Ibnu Hajar tidak berhenti belajar. 

Akhirnya Ibnu Hajar pulang ke rumah. Di tengah perjalanan, hujan turun dengan lebat. Dia terpaksa berteduh dalam sebuah gua. Pada saat di gua, dia mendengar suara gemericik air, lalu dia mendatangi sumber suara tersebut. Ternyata, itu suara gemericik air yang menetes pada sebongkah batu yang sangat besar.
Batu besar itu berlubang karena telah bertahun-tahun terkena tetesan air. Melihat batu yang berlubang tersebut, akhirnya Ibnu Hajar merenung. Dia berpikir, batu yang besar dan keras ini lama-lama berlubang hanya karena tetesan air. Kenapa aku kalah dengan batu? Padahal akal dan pikiranku tidak sekeras batu, itu artinya aku kurang lama dan tekun belajar.
Setelah berpikir, akhirnya Ibnu Hajar kembali lagi ke pondok untuk menemui sang kyai. Ia pun belajar lagi dengan penuh semangat. 

Usaha tersebut tidak sia-sia. Dia berhasil menjadi orang alim, bahkan dapat mengarang be-berapa kitab. Dari asal mula cerita batu di dalam gua, inilah kemudian beliau diberi sebutan Ibnu Hajar (Anak Batu).

Rabu, 07 September 2016

Semua Bersih Hidup Jadi Nyaman Karena Thoharoh

Nabi Sholallohu alahi wasallam bersabda :

اَلطَّهُوْرُشَطْرَالاِيْمَانْ

“Kebersihan itu sebagian dari iman.” (H.R. Muslim). 

Hadis tersebut menegaskan betapa pentingnya kebersihan bagi orang yang beriman. Orang akan disebut beriman kalau ia peduli dengan kebersihan. 

https://toriqoel.blogspot.co.id/2016/09/semua-bersih-hidup-jadi-nyaman-karena.html

Kebersihan merupakan salah satu kebutuhan pokok yang tidak bisa dihindari dalam kehidupan sehari-hari. Tidak akan terwujud kenyamanan tanpa adanya kebersihan. Kebersihan disini meliputi: diri sendiri, pakaian, lingkungan dan yang lainnya. 

Islam menaruh perhatian sangat tinggi pada masalah kebersihan atau kesucian, baik kebersihan dari najis maupun kebersihan dari hadas.

Pada bagian ini kita akan mempelajari tentang ketentuan-ketenuan dari kebersihan menurut syariat Islam. Sebelum membahas tentang Thoharoh, coba kita amati perilaku hidup bersih yang bagaimana dalam kehidupan sehari-hari.

Ingin Tahu tentang Thoharoh?
Thoharoh artinya bersuci dari najis dan hadas. Apa saja yang harus dibersihkan? Semua harus dibersihkan, termasuk badan, pakaian, tempat dan lingkungan yang menjadi tempat segala aktifitas kita. Lebih-lebih tempat yang kita gunakan untuk melaksanakan ibadah shalat. Lokasi ibadah ini harus suci dari najis dan bersih dari segala kotoran pasti akan menjadi lebih sempurna dan bermakna.

Thoharoh meliputi 2 hal yaitu:  Thoharoh dari najis dan Thoharoh dari hadas. Thoharoh dari najis maksudnya adalah membersihkan sesuatu dari najis. Ada tiga macam najis, yaitu najis mukhoffafah, najis mutawasitah, dan najis mughaladhoh.

Najis mukhoffafah adalah najis yang ringan, seperti air senig bayi laki-laki yang belum berumur dua tahun dan belum makan apapun kecuali air susu ibu. Cara menyucikannya sangat mudah, cukup dengan memercikkan atau mengusapkan air yang suci pada permukaan yang terkena najis.

Najis mutawasitah adalah najis pertengahan. Contoh najis jenis ini adalah darah, nanah, air seni, tinja, bangkai binatang, dan sebagainya. Najis jenis ini ada dua macam, yaitu najis hukmiyah dan najis ‘ainiyah. Najis hukmiyah diyakini adanya tetapi tidak nyata wujudnya (zatnya), bau dan rasanya. Cara menyucikannya adalah cukup dengan mengalirkan air pada benda yang terkena najis. Sedangkan najis ‘ainiyah adalah najis yang tampak wujudnya (zat-nya) dan bisa diketahui melalui bau maupun rasanya. Cara menyucikannya adalah dengan menghilangkan zat, rasa, warna, dan baunya dengan menggunakan air yang suci.

Najis mughaladhoh adalah najis yang berat. Najis ini bersumber dari anjing dan babi. Cara menyucikannya melalui beberapa tahap, yaitu dengan membasuh sebanyak tujuh kali. Satu kali di antaranya menggunakan air yang dicampur dengan tanah.

Nah, kalian sudah mengetahui cara bersuci dari najis. Selanjutnya, bagaimana cara bersuci dari hadas? Hadas ada dua macam, yaitu hadas kecil dan hadas besar.
Kita terkena hadas kecil apabila mengalami/melakukan salah satu dari 4 hal, yaitu:
  1. Keluar sesuatu dari qubul (kemaluan) dan dubur,
  2. Hilang akal (contoh tidur),
  3. Bersentuhan kulit antara laki-laki dan perempuan yang bukan mukhrim, dan
  4. Menyentuh qubul (kemaluan) dan dubur dengan telapak tangan.
Cara menyucikan hadas kecil dengan berwudhu. Apabila tidak ada air atau karena sesuatu hal, maka bisa dengan tayamum.

Bagaimana dengan hadas besar? Kita terkena hadas besar apabila mengalami/melakukan salah satu dari enam perkara, yaitu:
  1. Berhubungan suami istri (setubuh),
  2. Keluar mani,
  3. Haid (menstruasi),
  4. Melahirkan,
  5. Nifas, 
  6. Meninggal dunia.
Cara menyucikannya adalah dengan cara mandi wajib, yaitu membasahi seluruh tubuh dari ujung rambut sampai ujung kaki. Apabila tidak ada air atau karena sesuatu hal, maka bisa dengan tayamum.

Masalah hadas besar bagi perempuan menjadi sangat penting dan menarik untuk dipelajari. Perempuan mengalami peristiwa khusus yang tidak dialami oleh seorang laki-laki. Seorang perempuan mengalami peristiwa haid, nifas, dan terkadang istihadah. Semakin penasaran, bukan? Jawabannya dapat kalian temukan pada penjelasan berikut ini.

Darah yang keluar dari rahim perempuan ada beberapa macam. Ada yang dinamakan haid, nifas, dan istihadah.
Pertama darah haid, yaitu darah yang keluar pada perempuan saat kondisi sehat. Adapun ciri-ciri secara umum adalah kental, hangat, baunya kurang sedap, hitam, merah tua, kemudian berangsur-angsur menjadi semakin bening. Kalau kamu sudah mengalami haid, maka bersyukurlah. Itu artinya organ-organ kewanitaanmu sudah berfungsi secara normal.
Kapan perempuan mengalami haid?
Sebagian perempuan ada yang sudah mengalami haid saat mulai berumur 9 tahun. Namun, rata-rata mereka mengalaminya pada usia belasan tahun.

Berapa lama masanya haid?
Masa haid minimal adalah sehari semalam, biasanya 6 atau 7 hari, dan paling lama adalah 15 hari. Kalau setelah 15 hari darah masih terus keluar, maka darah itu merupakan darah istihadah (penyakit). Apabila kalian ada yang mengalami kondisi ini, segeralah berkonsultasi dengan dokter.

Perlu diingat bahwa perempuan yang sedang haid tidak boleh melaksanakan shalat, puasa, membaca dan menyentuh/memegang Al-Qur’an, tawaf, berdiam diri di masjid, berhubungan suami istri, dan cerai dari suami.
Kedua darah nifas, yaitu darah yang keluar sesudah melahirkan, setelah kosongnya rahim dari kehamilan, meskipun hanya segumpal darah. Sedikit atau banyaknya darah nifas juga bervariasi. Ada yang hanya satu tetes, keluar sehari, atau dua hari. Rata-rata perempuan mengeluarkan darah nifas selama 40-an hari, dan paling lama 60 hari. Adapun cara mandi wajib untuk perempuan yang nifas sama sebagaimana mandinya haid.
Ketiga darah istihadah, yaitu darah yang keluar tidak pada hari-hari haid dan nifas karena suatu penyakit. 
Darah istihadah ada empat macam yaitu:
1.Keluar kurang dari masa haid;
2.Keluar lebih dari masa haid;
3.Keluar sebelum usia haid atau setelah masa menopause;
4.Keluar lebih lama dari maksimal masa nifas.
Seorang perempuan yang mengeluarkan darah istihadah tetap harus melaksanakan kewajiban shalat dan puasa. Apabila hendak shalat maka bersihkan darah itu, pakailah pembalut, kemudian ambillah air wudhu.

Bagaimana Cara Thoharoh?
Tata cara Thoharoh dari najis sudah dijelaskan di atas tadi, sedangkan tata cara Thoharoh dari hadas meliputi: mandi wajib, wudhu dan, tayamum. Adapun sarana yang dapat digunakan untuk Thoharoh, yakni: air, debu, dan batu.

Pada umumnya, orang bersuci menggunakan air. Adapun air yang bisa dipakai untuk bersuci adalah air yang suci sekaligus menyucikan. Air jenis ini merupakan air yang bersumber dari alam, baik yang keluar dari bumi maupun yang turun dari langit, seperti air sumur, air sungai, air hujan, air laut, air danau, air embun, air salju, dan sebagainya.

Di bawah ini akan dijelaskan secara rinci tata cara Thoharoh dari hadas.
1.Mandi Wajib
Mandi wajib adalah mandi untuk menghilangkan hadas besar. Sering disebut juga mandi janabat/junub. Adapun cara mandi wajib adalah sebagai berikut.
a. Niat mandi untuk menghilangkan hadas besar.

نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِرَفْعِ الْحَدَثِ اْلاَكْبَرِفَرْضًا ِللهِ تَعَالى

“Saya niat mandi menghilangkan hadas besar fardu karena Allah ta’ala”.

b. Menghilangkan najis apabila terdapat di badannya seperti bekas tetesan darah.
c. Membasahi seluruh tubuh mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Pada saat mandi wajib, kita juga disunahkan untuk mambaca basmalah, mencuci kedua tangan sebelum dimasukkan kedalam bejana, berwudhu terlebih dahulu, mendahulukan yang kanan dari yang kiri, menggosok tubuh, dan sebagainya.

2.Wudhu
Wudhu adalah cara bersuci untuk menghilangkan hadas kecil. Adapun tatacara wudhu adalah sebagai berikut.
a.Niat:

نَوَيْتُ الْوًضُوْءَ لِرَفْعِ الْحَدَثِ اْلاَصْغَرِفَرْضًا ِللهِ تَعَالى

“Saya niat wudhu menghilangkan hadas kecil fardhu karena Allah ta’ala”.

b.Disunahkan mencuci kedua telapak tangan, berkumur-kumur dan membersihkan lubang hidung.
c.Membasuh muka.
d.Membasuh kedua tangan sampai siku.
e.Mengusap kepala.
f.Disunahkan membasuh telinga.
g.Membasuh kaki sampai mata kaki.
h.Tertib dan urut (dilakukan secara berurutan).
i.Berdoa setelah wudhu.

3. Tayamum
Apakah tayamum itu? Tayamum adalah pengganti wudhu atau mandi wajib. Hal ini dilakukan sebagai rukhsah (keringanan) untuk orang yang tidak dapat memakai air karena beberapa halangan (udzur). Untuk lebih mudah memahaminya bacalah ilustrasi berikut ini.
Suatu ketika, kita sedang memiliki hadas kecil atau besar. Sementara kita harus segera shalat. Namun, pada saat itu tidak tersedia air atau tidak bisa menggunakan air karena sesuatu hal. Nah, solusinya adalah tayamum dengan menggunakan debu yang suci. Tidak sulit, bukan?

Jadi, tayamum dilakukan dengan menggunakan sarana debu yang suci. Debu ini digunakan sebagai pengganti air. Apabila kita berada di dalam pesawat atau kendaraan, debu yang digunakan untuk tayamum cukup mengusap debu yang ada di dinding pesawat atau kendaraan.

Cara ini boleh dilakukan apabila:
a.Tidak ada air dan telah berusaha mencarinya masih tidak ada.
b.Berhalangan menggunakan air, misalnya karena sakit.
c.Telah masuk atau manjing waktu shalat.

Bertayamum itu mudah caranya adalah sebagai berikut :
a.Niat (untuk dibolehkan mengerjakan shalat);

نَوَيْتُ التَّيَمُّمَ لاِسْتِبَاحَةِ الصَّلاَةِ فَرْضَا ِللهِ تَعَالى

“Aku niat bertayamum untuk dapat mengerjakan şalat, fardu karena Allah ta’ala”.

b.Mengusap muka dengan tanah (debu yang suci);
c.Mengusap dua tangan kanan hingga siku-siku dengan debu;
d.Mengusap dua tangan kiri hingga siku-siku dengan debu.

Manfaat atau hikmah dari Thoharoh, betapa pentingnya bersuci (Thoharoh) dalam kehidupan kita, baik dari najis maupun dari hadas. Bersuci memiliki keutamaan dan manfaat yang luar biasa. Keutamaan-keutamaan itu, antara lain: orang yang hidup bersih akan terhindar dari segala macam penyakit karena kebanyakan sumber penyakit berasal dari kuman dan kotoran, Rasulullah saw. bersabda bahwa orang yang selalu menjaga wudhu akan bersinar wajahnya kelak saat dibangkitkan dari kubur, dapat dijadikan sarana untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah Swt. Rasulullah saw. menegaskan bahwa kebersihan itu sebagian dari iman dan ada ungkapan bijak pula yang mengatakan ”kebersihan pangkal kesehatan”. kebersihan akan membuat kita menjalani hidup dengan lebih nyaman dan semua bersih hidup dadi nyaman karena Thoharoh.

Senin, 05 September 2016

Beristiqomah Dalam Kehidupan Sehari-Hari

https://toriqoel.blogspot.co.id/2016/09/beristiqomah-dalam-kehidupan-sehari-hari.html
Beristiqomah (ajeg bhs. jawa) Dalam Kehidupan Sehari-Hari. Pengertian Istiqomah. Istiqomah berarti sikap kukuh pada pendirian dan konsekuen dalam tindakan. Dalam makna yang luas, istiqamah adalah sikap teguh dalam melakukan suatu kebaikan, membela dan mempertahankan keimanan dan keislaman, walaupun menghadapi berbagai macam tantangan dan godaan.

Seseorang yang mempunyai sifat istiqamah bagaikan batu karang yang berada di tengah-tengah lautan yang tidak tergeser sedikit pun, meskipun dihantam oleh gelombang yang sangat besar.

Perilaku Istiqomah terwujud karena adanya keyakinan akan kebenaran dan siap menanggung risiko. Sikap ini wajib dimiliki setiap muslim, termasuk kita sebagai pelajar. Istiqamah dapat membantu kita untuk membentuk sikap dan perilaku yang sesuai dengan ajaran Islam. Oleh karena itu, kita sebagai pelajar harus memberikan contoh yang baik kepada siapa saja dalam kehidupan kita sehari-hari, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat sekitar. Allah Swt. berfirman:

https://toriqoel.blogspot.co.id/2016/09/beristiqomah-dalam-kehidupan-sehari-hari.html

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata Tuhan kami adalah Allah, kemudian mereka tetap istiqomah, tidak ada rasa khawatir pada mereka, dan mereka tidak (pula) bersedih hati”. (Surah al- Ahqof/46: 13)

Ayat di atas menjelaskan sikap orang-orang istiqomah, yaitu menepati dan mengikuti garis-garis yang telah ditentukan oleh agama, menjalankan semua perintah Allah Swt. dan meninggalkan semua larangan-Nya. Orang yang semacam itu tidak perlu khawatir terhadap diri mereka di hari kiamat karena Allah Swt. menjamin keselamatan mereka.

Di antara hikmah perilaku Istiqomah adalah sebagai berikut.
  1. Orang yang Istiqomah akan dijauhkan oleh Allah Swt. dari rasa takut dan sedih sehingga dapat mengatasi rasa sedih yang menimpanya, tidak hanyut dibawa kesedihan dan tidak gentar dalam menghadapi kehidupan masa yang akan datang.
  2. Orang yang Istiqomah akan mendapatkan kesuksesan dalam kehidupan di dunia karena ia tekun dan ulet.
  3. Orang yang Istiq±mah dan selalu sabar serta mendirikan shalat akan selalu dilindungi oleh Allah Swt.

Perilaku Istiqomah dalam Kehidupan Sehari-hari
Perilaku Istiqomah dapat kita diwujudkan melalui kegiatan sehari-hari antara lain:
Selalu menjalankan perintah Allah Swt. dan menjauhi larangan-Nya dalam keadaan apa pun dan di mana pun;
Melaksanakan şhalat tepat pada waktunya;
Belajar terus menerus hingga paham;
Selalu menaati peraturan, baik yang ada di rumah, sekolah, maupun masyarakat atau dimanapun kita berada;
Selalu menjalankan kewajibannya dengan rasa senang dan nyaman, tidak merasa dipaksa atau dibebani.

Arti dan Makna Amanah Beserta Hadits Terkait

Apakah Amanah itu?
Amanah artinya terpercaya (dapat dipercaya). Amanah juga berarti pesan yang dititipkan dapat disampaikan kepada orang yang berhak. Amanah yang wajib ditunaikan oleh setiap orang adalah hak-hak Allah Swt., seperti ¡alat, zakat, puasa, berbuat baik kepada sesama, dan yang lainnya.

Amanah berkaitan erat dengan tanggung jawab. Orang yang menjaga amanah biasanya disebut orang yang bertanggung jawab. Sebaliknya, orang yang tidak menjaga amanah disebut orang yang tidak bertanggung jawab.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa menjaga amanah itu penting. Kalau kalian setuju dengan pernyataan ini, mulai sekarang kalian harus berlatih untuk menjaga amanah. Kalian harus berlatih untuk bertanggung jawab. Untuk berlatih tidak sulit. Mulailah dari menjaga amanah yang kecil-kecil, seperti bertanggung jawab saat piket kebersihan. Kalian belajar dan sekolah dengan sungguh-sungguh. Itu juga bagian dari menjaga amanah. Melaksanakan ibadah ¡alat juga bagian dari menjaga amanah dari Allah Swt.

Ternyata, tanpa disadari kalian sudah mulai berlatih menjaga amanah. Siapa tahu kelak di antara kalian ada yang mendapat amanah untuk menjadi seorang pemimpin. Jika kalian berlatih mulai dari sekarang, pada saat menjadi pemimpin tentu tidak sulit untuk menjaga amanah.

Rasulullah saw. bersabda:

“Dari Ibnu Umar, Rasulullah saw. bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannnya. Seorang kepala negara adalah pemimpin dan akan diminta pertanggung—jawaban perihal rakyat yang dipimpinnya...” (H.R. Bukhari Muslim)

Nah, sekarang saatnya kalian mengetahui macam-macam bentuk amanah. Amanah itu dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu:

a. Amanah terhadap Allah Swt. Amanah ini berupa ketaatan akan segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya. Allah Swt. berfirman:

”Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad), dan (juga) janganlah kalian mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.”.(Surah al-Anfal/8: 27).

Contoh amanah kepada Allah Swt., yaitu menjalankan semua yang diperintahkan dan meninggalkan semua yang dilarangnya. Bukankah kita diciptakan oleh Allah Swt. untuk mengabdi kepada-Nya? Orang yang mengabdi kepada-Nya berarti telah memenuhi amanah-Nya. Orang yang tidak mengabdi kepada-Nya berarti telah mengingkari amanah-Nya.

b. Amanah terhadap sesama manusia. Amanah ini meliputi hak-hak antarsesama manusia. Misalnya, ketika dititipi pesan atau barang, maka kita harus menyampaikannya kepada yang berhak. Allah Swt. berfirman:

“Sesungguhnya Allah Swt. menyuruh kamu untuk menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya...”.(Surah an-Nisa’/4: 58)

Amanah terhadap diri sendiri. Amanah ini dijalani dengan memelihara dan menggunakan segenap kemampuannya demi menjaga kelangsungan hidup, kesejahteraan, dan kebahagiaan diri. Allah Swt. berfirman:

“Dan (sungguh beruntung) orang yang memelihara amanat-amanat dan janjinya”

(Surah al-Mu’minun/23: 8)

Manfaat atau Hikmah Perilaku Amanah
Orang yang berbuat baik kepada orang lain, sesungguhnya ia telah berbuat baik kepada diri sendiri. Begitu juga sikap amanah memiliki dampak positif bagi diri sendiri adalah sebagai berikut :
  1. Dipercaya orang lain, ini merupakan modal yang sangat berharga dalam menjalin hubungan atau berinteraksi antara sesama manusia.
  2. Mendapatkan simpati dari semua pihak, baik kawan maupun lawan.
  3. Hidupnya akan sukses dan dimudahkan oleh Allah Swt.

Perilaku Amanah dalam Kehidupan Sehari-hari
Perilaku amanah dalam kehidupan sehari-hari dapat diwujudkan melalui kegiatan-kegiatan sebagai berikut :
a. Menjaga titipan dan mengembalikannya seperti keadaan semula. Apabila kita dititipi sesuatu oleh orang lain, misalnya barang berharga, emas, rumah, atau barang-barang lainnya, maka kita harus menjaganya dengan baik. Pada saat barang titipan tersebut diambil oleh pemiliknya, kita harus mengembalikannya seperti semula.

b. Menjaga rahasia. Apabila kita dipercaya untuk menjaga rahasia, baik itu rahasia pribadi, rahasia keluarga, rahasia organisasi, atau rahasia negara, maka kita wajib menjaganya supaya tidak bocor kepada orang lain.

c. Tidak menyalahgunakan jabatan. Jabatan adalah amanah yang wajib dijaga. Apabila kita di beri jabatan apa pun bentuknya, maka kita harus menjaga amanah tersebut. Segala bentuk penyalahgunaan jabatan untuk kepentingan pribadi, keluarga, atau kelompok termasuk perbuatan yang melanggar amanah.

d. Memelihara semua nikmat yang telah diberikan oleh Allah Swt. berupa umur, kesehatan, harta benda, ilmu, dan sebagainya. Semua nikmat yang diberikan oleh Allah Swt. kepada umat manusia adalah amanah yang harus dijaga dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

Hidup Tenang dengan Kejujuran,

Sering melihat di tengah-tengah masyarakat, seseorang yang ketika diberi kepercayaan oleh orang lain, lalu mengkhianati amanah tersebut. Ketika diberikan kepercayaan untuk menjadi ketua panitia, ia tidak menjalankannya dengan maksimal. Ketika diberikan kepercayaan untuk mengelola uang, ia menyalahgunakannya untuk kepentingan lain. Masih banyak lagi perilaku-perilaku tidak amanah yang sering kita lihat di masyarakat. Akibat dari perilaku tersebut, banyak pihak-pihak yang dirugikan.

Pernahkah kalian bersikap jujur? Jika belum pernah, cobalah untuk melakukannya. Ulangi terus sampai jujur itu menjadi kebiasaan. 

Jujur adalah kesesuaian sikap antara perkataan dan perbuatan yang sebenarnya. Apa yang diucapkan memang itulah yang sesungguhnya dan apa yang diperbuat itulah yang sebenarnya. 

Kejujuran sangat erat kaitannya dengan hati nurani. Kata hati nurani adalah sesuatu yang murni dan suci. Hati nurani selalu mengajak kita kepada kebaikan dan kejujuran. Namun, kadang, kita enggan mengikuti hati nurani. Bila kita melakukan sesuatu yang tidak sesuai hati nurani, maka itulah yang disebut dusta. Apabila kita 

katakan sesuatu yang tidak sesuai dengan kenyataan, itulah yang dinamakan bohong. Dusta atau bohong merupakan lawan kata jujur. 

Jujur itu penting. Berani jujur itu hebat. Sebagai makhluk sosial, kita memerlukan kehidupan yang harmonis, baik, dan seimbang. Agar tidak ada yang dirugikan, dizalimi dan dicurangi, kita harus jujur. Jadi, untuk kehidupan yang lebih baik kuncinya adalah kejujuran. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi: 

“Dari Abdullah ibn Mas’ud, Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya jujur itu membawa kepada kebaikan dan kebaikan itu membawa ke surga...” (H.R. Bukhari). 

Ada ungkapan yang mengatakan bahwa “kejujuran itu mahal”. Ya, kejujuran memang sangat mahal karena berkata jujur itu terkadang sangat berat. Akan tetapi, agar dapat dipercaya orang, kita harus jujur. Rasulullah saw. telah memberi contoh nyata kepada kita. Pada masa jahiliyah sangat sulit mencari orang yang jujur. Dengan kejujuran Rasulullah saw. menjadi orang yang paling terpercaya. Beliau mendapat gelar al-am³n (dapat dipercaya) dari bangsa Quraisy. 

Kejujuran berbuah kepercayaan, sebaliknya dusta menjadikan orang lain tidak percaya. Jujur membuat hati kita tenang, sedangkan berbohong membat hati jadi was-was. 

Akan tetapi kadangkala, ada orang yang tidak suka dengan kejujuran. Hal ini dapat terjadi kalau orang itu akan terganggu oleh kejujuran kita itu. Meskipun demikian jangan takut dan risau karena masih banyak pihak yang mendukung kejujuran. 

Kejujuran merupakan bagian dari akhlak yang diajarkan dalam Islam. Seharusnya sifat jujur juga menjadi identitas seorang muslim. Katakan bahwa yang benar itu adalah benar dan yang salah itu salah. Jangan dicampuradukkan antara yang hak dan yang batil. Allah Swt. berirman: 

“Dan janganlah kamu campur adukkan kebenaran dengan kebatilan dan (janganlah) kamu sembunyikan kebenaran, sedangkan kamu mengetahuinya”. (Surah al-Baqarah/2: 42)

Hikmah atau manfaat dari perilaku jujur adalah:
1. mendapatkan kepercayaan dari orang lain,
2. mendapatkan banyak teman, dan
3. mendapatkan ketentraman hidup karena tidak memiliki kesalahan terhadap orang lain.

Kita sering pula menyaksikan perilaku orang yang tidak konsisten (istiqamah) dalam melakukan kegiatan. Ketika ditugasi oleh guru, orang tersebut tidak menyelesaikannya. Hal lain, misalnya, melalaikan kewajiban sebagai seorang muslim seperti şalat tepat waktu. Perilaku tidak konsisten ini juga akan merugikan si pelaku. Ada ungkapan: “siapa giat pasti dapat”. Ungkapan ini mengisyaratkan agar kita selalu istiqamah dalam mengerjakan sesuatu. Yakinkah kalian bahwa orang yang giat pasti dapat? Buktikan kalau kalian hebat!

Minggu, 04 September 2016

Hikmah Beriman kepada Allah Swt

Orang yang beriman tentu merasa dekat dengan Allah Swt. Oleh karena merasa dekat, dia berusaha taat, menjalankan perintah dan menjauhi segala larangan-Nya. Sungguh bahagia dan beruntung manusia yang bisa seperti ini. Jadi, orang yang beriman akan medapatkan berbagai keuntungan, antara lain sebagai berikut.

1. Selalu mendapat pertolongan dari Allah Swt. Hal ini sesuai dengan firman-Nya:
”Sesungguhnya kami menolong rasul-rasul kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat).”(Surah al-Mu’min/40: 51).

2.Hati menjadi tenang dan tidak gelisah. Hal ini sesuai dengan firman Allah Swt.:
”(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah hanya dengan mengingat Allahlah hati menjadi tenteram.”(Surah ar-Ra’d/13: 28).

3. Sepanjang masa hidupnya tidak akan pernah merasa rugi. Sebaliknya, tanpa dibekali iman sepanjang usianya diliputi kerugian. Sebagaimana firman Allah Swt. berikut ini.
”Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal ¡aleh dan nasihat-menasihati dengan kebenaran dan nasihat-menasihati dengan kesabaran.” (Surah al-‘Asr/103:1-3).

Sesungguhnya beruntunglah orang yang yang beriman dan beramal saleh. Semoga kisah berikut ini memotivasi kita untuk berbuat baik!

Pengertian Iman kepada Allah Swt

https://toriqoel.blogspot.co.id/2016/09/pengertian-iman-kepada-allah-swt.html
Allah Swt. berfirman: “Dan Allah memiliki al-Asma‘ul al-Husna, (nama-nama yang terbaik), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut al-Asma‘ul al-Husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyalahartikan nama-nama-Nya. Mereka kelak akan mendapatkan balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (Surah al-A‘raf/7: 180) Ayat ini diturunkan ketika ada seorang sahabat Nabi Muhammad saw. sedang berdoa se-raya membaca, “Ya Rahman, Ya Rahim" (Wahai Zat Yang Maha Pengasih, Wahai Zat Yang Maha Penyayang). Ketika mendengar itu, orang-orang musyrik langsung menyebarkan tuduhan dan fitnah bahwa Nabi Muhammad saw. dan para sahabat-nya menyembah dua Tuhan, yaitu Ya Rahman dan Ya Rahim. Sebagai jawaban atas tuduhan orang kafir itu, maka turunlah ayat tadi (Surah al-A‘raf /7:180). Dengan jelas dan tegas ayat ini me-nyatakan bahwa Allah Maha Esa, namun Allah Swt. memiliki sebutan lain berupa nama-nama yang indah. Indah untuk didengar, diucapkan, diterapkan, dan diteladani oleh hamba-Nya.Allah Swt. memiliki al-asma‘u al-Husna (nama-nama yang indah), seperti al-‘Alim, ar-Khabir, al-Sami’, al-Basir. Berdoalah kepada-Nya seraya menyebut al-asma‘u al-Husna, seperti ya Alim, ya Khabir, ya Sami’, ya Basir dan seterusnya karena doa yang demikian akan lebih dikabulkan Allah Swt. Doa yang demikian juga bisa menginspirasi kita agar menjadi manusia yang ‘alim (berilmu), khabir (mau meneliti), sam³ (menjadi pendengar yang baik), dan basir (pandai melihat kenyataan hidup).

Pernahkah kamu merasa dekat dengan Allah Swt. sehingga perasaanmu merasa begitu tenang? Pernahkah kamu merasa jauh dengan-Nya sehingga jiwamu terasa hampa? Melalui uraian berikut ini, mari kita belajar untuk lebih mengenal nama-nama Allah Swt. yang indah dan berusaha menjadi lebih dekat dengan-Nya.

Allah Swt. memiliki kasih dan sayang yang begitu besar terhadap hamba-Nya. Kita boleh bermohon apa saja kepada-Nya. Syaratnya, tentu kita harus yakin akan keberadaan Kalau kita belum yakin bahwa Allah Swt. itu ada, sudah barang tentu doa kita juga sia-sia.

Jadi, sebelum berdoa kepada Allah Swt., kita harus yakin terlebih dulu bahwa Allah Swt. dapat memberikan apa yang kita butuhkan. Itu artinya kita harus beriman kepadanya Allah Swt.

Apakah iman itu? Kata iman berasal dari bahasa Arab yang bermakna percaya. Makna iman dalam pengertian ini adalah percaya dengan sepenuh hati, diucapkan dengan lisan dan diamalkan dalam perbuatan sehari-hari.

Menjadi orang yang beriman bukan persoalan yang ringan atau mudah. Sebagai manusia yang memiliki pertanggungjawaban kepada Allah Swt., iman menjadi sangat penting. Allah Swt. sendiri yang memerintahkan kita untuk beriman, sebagaimana firman-Nya:

https://toriqoel.blogspot.co.id/2016/09/pengertian-iman-kepada-allah-swt.html

”Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kapada Rasulnya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barang siapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah tersesat sejauh-jauhnya.(Surah an-Nisa’/4:136)

Keimanan seseorang itu bisa tebal dan bisa tipis, bisa bertambah atau berkurang. Salah satu cara untuk meningkatkan keimanan kita kepada Allah Swt. adalah dengan memahami nama-nama-Nya yang baik dan indah. Kita sering mendengar nama-nama indah itu dengan sebutan al-asma‘ul al-Husna.

Sabtu, 03 September 2016

Tiga Hal yang Perlu Dihindari Menurut Ajaran Rasulullah

Dalam hadits Rasulullah saw yang jika diperhatikan secara seksama memberikan ajaran kepada seorang muslim agar tidak terjerumus dalam kerugian. Hadits itu berbunyi:

رُوِىَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: مَنْ أَصْبَحَ وَهُوَ يَشْكُو ضَيْقَ الْمَعَاشِ فَكَاَنَّمَا يَشْكُو رَبَّهُ وَمَنْ أَصْبَحَ لِأُمُوْرِ الدُّنْيَا حَزِيْنًا فَقَدْ أَصْبَحَ سَاخَطًا عَلىَ اللهِ وَمَنْ تَوَاضَعَ لِغَنِيٍّ لِغِناَهُ فَقَدْ ذَهَبَ ثُلُثَا دِيْنِهِ

Diriwayatkan dari Nabi saw sesungguhnya beliau pernah bersabda: barang siapa bangun di pagi hari kemudian mengadukan kesulitannya kepada sesama (mahkluk/manusia), maka seolah-olah ia mengadukan tuhannya (karena tidak rela dengan apa yang diterimanya). Dan barang siapa merasa sedih dengan kondisi duniawinya di waktu pagi, maka dia pagi-pagi telah membenci Allah. Dan barang siapa merendahkan dirinya di hadapan orang kaya karena kekayaannya sungguh telah lenyap dua pertiga agamanya. 

Itulah tiga hal yang seharusnya dihindarkan oleh setiap muslim. Mengingat ketiga hal tersebut memiliki dampak buruk kepada hubungan manusia dengan Allah swt.
Pertama, hindarkanlah kebiasaan mengeluh kepada sesama akan kondisi yang ada. Karena hal itu sama artinya dengan menggugat taqdir Allah swt yang ditetapkan bagi seorang hamba. Mengeluh dan meratapi nasib yang diderita sama artinya dengan merasa tidak puasa akan pemberian Allah swt. Ketidak puasan itu adalah manusiawi, tetapi hendaknya langsung saja diratapkan dalam doa kepada-Nya janganlah diadukan kepada sesama. Sebagaimana do’a Nabi Musa yang dipantajkan kepada Allah swt tatkala beliau melewati lautan berama kaumnya: 
اَلَّلهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ وَاِلَيْكَ الْمُشْتَكَى وَاَنْتَ الْمُسْتَعَانُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ اِلَّا بِاللهِ اْلعَلِيِّ الْعَظِيْمِ 
Ya Allah segala puji bagi-Mu. Kepada Engkaulah aku mengadu dan hanya Engkau yang bisa memberi pertolongan. Tiada daya dan upaya, serta tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.
Kedua, hindarkanlah perasaan sedih dengan kondisi yang ada dipagi hari. Karena hal itu akan menimbulkan rasa tidak ridha dengan apa yang diberikan Allah kepada kita. Kedua larangan ini adalah bukti ketdak sabaran seorang hamba akan nasibnya. Sesungguhnya orang yang sabar tidak akan menggerutu apalagi mengadukan nasibnya kepada sesama.
Kedua hal di atas pada hakikatnya menunjukkan betapa seeorang hamba tidak lagi bersabar. Karena sejatinya sabar adalah Tajarru’ul murarati bighairi ta’bitsin (tahan menelan barang pahit tanpa cemberut). Oleh karena itu, ketika di pagi hari kita telah menggerutu akan keadaan nasib kita, berarti kita bukan lagi orang yang sabar. Apalagi hingga mengadukan nasib kita kepada sesama manusia dengan mengeluhkan keberadaan dan keadaan yang kita alami. 
Ketiga, barang siapa merendahkan dirinya di hadapan orang kaya karena kekayaannya sungguh telah lenyap dua pertiga agamanya. Poin ketiga dan terkahir ini dapat dimaknai sebagai larangan Rasulullah saw akan adanya persaan thama’ dan pengharapan yang tinggi kepada sesama. Karena pengharapan itu hanya boleh disandarkan kepada Allah swt saja.
Sedangan pada sisi lain juga menunjukkan larangan pengagungan sesama manusia, apalagi pengagungan itu dilatar belakangi kepimilikan harta, sungguh hal itu pasti akan berimbas pada penghinaan ilmu dan kemaslahatan. Bukankah ini telah menjadi fenomena di sekitar kita saat ini? Di mana orang-orang yang memiliki harta dapat menguasai berbagai jejaring bahkan dapat menentukan arah ilmu pengetahuan. Bukankah beberapa wacana yang ada di negeri ini merupakan hasil kerja para penyandang dana? Na’udzubillahi min dzalik.

Jika demikian adanya berbagai larangan, lantas apakah hal yang diperbolehkan untuk kita dalam menilai lebih sesama manusia? Islam hanya memberikan tiga dua kepada umatnya agar saling menghargai dan memuliakan pertama karena ilmunya, karena kebaikannya. Selebihnya tidak ada. Jadi siapapun yang memuliakan manusia dengan berbagai alasan sesungguhnya orang itu telah terjerembab kepada lubang kecil yang jika dibiarkan akan menenggelamkan diri pada lumpur kethamakan.

Sebuah pesan dari Sayyidul Auliya Syaikh Abdul Qadir al-Jailani bahwa:

لاَبُدَّ لِكُلِّ مُؤْمِنٍ فِى سَائِرِ اَحْوَالِهِ مِنْ ثَلَاثَةِ أَشْيَاء: أَمْرٌ يَمْتَثِلُهُ وَنَهْيٌ يَجْتَنِبُهُ وَقَدْرٌ يَرْضَى بِهِ

Setiap muslim harus berada dalam tiga keadaan yaitu, melaksanakan perintah Allah, menjauhi larangan Allah dan rela akan qadha dan qadar (ketetapan) Allah SWT.

Jumat, 02 September 2016

Arti dan Makna Al-‘Alim dalam Asmaul Husna Beserta Dalilnya

https://toriqoel.blogspot.co.id/2016/09/arti-dan-makna-al-alim-dalam-asmaul.html

Asma‘ul Husna artinya nama-nama Allah Swt. yang baik. Allah SWT mengenalkan dirinya dengan nama-nama-Nya yang baik. Salah satunya adalah Al-'Alim.

Al-‘Alim artinya maha mengetahui. Allah Swt. Maha Mengetahui yang tampak atau yang gaib. Pengetahuan Allah Swt. tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Segala aktivitas yang dilakukan oleh makhluk diketahui oleh Allah Swt. Bahkan, peristiwa yang akan terjadi pun sudah diketahui oleh Allah Swt. Dengan kata lain, pengetahuan Allah Swt. itu tanpa batas. Luar biasa, bukan? Agar lebih yakin perhatikan firman-Nya berikut ini.

وَعِنْدَهُۥ مَفَاتِحُ ٱلۡغَيۡبِ لَا يَعۡلَمُهَآ إِلَّا هُوَۚ وَيَعۡلَمُ مَا فِي ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِۚ وَمَا تَسۡقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلَّا يَعۡلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَٰتِ ٱلأَرۡضِ وَلَا رَطۡبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتبٍ مُبِيْنٍ ٥٩

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz).” (Q.S Al-An’am / 6:59

Subhanallah, luar biasa! Perlu kalian ketahui bahwa Allah Swt. menyuruh kita untuk menggali ilmu yang sebanyak-banyaknya, agar kalian dapat mengetahui berbagai macam ciptaan-Nya, baik yang ada di langit maupun yang ada di bumi. Sesungguhnya, Allah Swt. sangat menyukai orang yang rajin mencari ilmu pengetahuan dan mengamalkannya untuk sesama.

Perilaku yang dapat diwujudkan dalam meyakini sifat Allah al-‘Alim adalah kita harus terus-menerus mencari ilmu-ilmunya Allah Swt. dengan cara belajar dan merenungi ciptaan-Nya. Tapi ingat! Penting juga untuk diperhatikan bahwa kita tidak boleh merasa paling pandai. Orang yang berilmu itu harus tetap rendah hati. ibaratnya seperti padi, semakin berisi semakin merunduk.

Kandungan Surah Ar-Rahman /55: 33 serta Hadis Terkait

ِArtikel kali ini adalah Kandungan Surah Ar-Rahman / 55:33 serta Hadis Terkait. Isi kandungan surah ar-Rahman /55:33 sangat cocok untuk kita pelajari karena ayat ini menjelaskan pentingnya ilmu pengetahuan bagi kehidupan umat manusia. Dengan ilmu pengetahuan, manusia dapat mengetahui benda-benda langit. Dengan ilmu pengetahuan, manusia dapat menjelajahi angkasa raya. Dengan ilmu pengetahuan, manusia mampu menembus sekat-sekat yang selama ini belum terkuak. Hebat, bukan? 

Manusia diberi potensi oleh Allah Swt. berupa akal. Akal ini harus terus diasah, diberdayakan dengan cara belajar dan berkarya. Dengan belajar, manusia bisa mendapatkan ilmu dan wawasan yang baru. Dengan ilmu, manusia dapat berkarya untuk kehidupan yang lebih baik. 

Nabi Muhammad saw. bersabda: 

https://toriqoel.blogspot.co.id/2016/09/kandungan-surah-ar-rahman-55-33-serta.html


“Dari Anas ibn Malik r.a. ia berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Menuntut ilmu itu adalah kewajiban bagi setiap orang Islam”. (H.R. Ibn Majah) 

Tentang pentingnya menuntut ilmu, Imam Syafi‘i dalam kitab Diwan juga menegaskan: 

https://toriqoel.blogspot.co.id/2016/09/kandungan-surah-ar-rahman-55-33-serta.html

“Barang siapa yang menghendaki dunia, maka harus dengan ilmu. Barang siapa yang menghendaki akhirat maka harus dengan ilmu.” 

Nasihat Imam Syafi‘i tersebut mengisyaratkan bahwa kemudahan dan kesuksesan hidup baik di dunia maupun di akhirat dapat dicapai oleh manusia melalui ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan tidak akan mudah diperoleh, kecuali dengan beberapa cara dan strategi yang harus dilalui. Dalam hal ini Imam Syafi‘i dalam kitab Diwan menegaskan: 
“Saudaraku, engkau tidak akan mendapatkan ilmu kecuali setelah memenuhi enam syarat, yaitu: kecerdasan, kemauan yang kuat, kesungguhan, perbekalan yang cukup, dan kedekatan dengan guru dalam waktu yang lama.”
Ungkapan Imam Syafi‘i di atas penting diketahui oleh orang-orang yang sedang asyik menuntut ilmu. Cara ini perlu dilakukan agar berhasil. Perlu adanya semangat juang, harus dekat, akrab, dan hormat kepada guru agar ilmunya berkah. Oleh karenanya mencari ilmu itu juga perlu waktu yang lama.

Demikianlah Kandungan Surah Ar-Rahman / 55:33 serta Hadis Terkait. Mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua amin.